Hal serupa disampaikan Rozikin, salah satu jemaah NU yang merasakan langsung pelayanan di posko. Ia menilai sikap warga Muhammadiyah mencerminkan wajah Islam yang ramah dan menenteramkan.

“Kami benar-benar merasa dihormati dan dilayani dengan tulus. Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah dan NU sejatinya berjalan menuju tujuan yang sama: menjaga kerukunan umat dan menghadirkan Islam yang bermanfaat,” ungkapnya.

Menurut Rozikin, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa perbedaan tradisi dan amaliah tidak semestinya melahirkan jarak sosial. Justru melalui perjumpaan dan pelayanan inilah ukhuwah Islamiyah tumbuh secara alami.

Bagi pihak sekolah, keterlibatan ini dipandang sebagai bagian dari dakwah sosial sekaligus pendidikan karakter. SD Muhammadiyah 1 Malang berharap, pengalaman ini dapat menjadi teladan bahwa Islam berkemajuan tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir melalui tindakan nyata melayani, merangkul, dan memanusiakan sesama.

Rizka Silvia, S.PdI., M.Pd., Kepala SD Muhammadiyah 1 Kota Malang, menegaskan bahwa partisipasi sekolah dalam AksiMu bukan sekadar urusan teknis, melainkan panggilan nilai.

“Kami memaknai ini sebagai dakwah sosial dan pendidikan karakter. Anak-anak perlu belajar bahwa Islam itu ramah, terbuka, dan hadir untuk siapa saja. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk menutup pintu kemanusiaan,” tegasnya.

Ia menambahkan, menjadi posko jemaah NU justru memperkaya pengalaman spiritual dan sosial seluruh warga sekolah. Islam berkemajuan, menurutnya, harus tampak dalam sikap melayani, menghormati, dan menjaga persaudaraan.

Di tengah tantangan polarisasi umat, peristiwa ini menjadi penanda penting bahwa harmoni antar ormas Islam bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang bisa dirawat bersama dari sekolah, untuk umat, dan demi Indonesia yang rukun.

Penulis: Angga Adi Prasetya, M.Pd