Dosa Itu Bernama "Spiritual Pride"
Mutukawi.id - Bulan Ramadhan adalah momen untuk mendidik akhlak dan diri kita. Ia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menahan ego yang sering ingin merasa paling benar. Di bulan ini, kita belajar bahwa ibadah bukan sekadar ketepatan bacaan, melainkan ketundukan hati. Ramadhan mengajak kita berhenti sejenak dari sibuk menilai, lalu mulai menghisab diri. Dari merasa lebih suci, menjadi lebih rendah hati.
Ada satu fase dalam hidup saya ketika telinga terasa begitu “tajam” terhadap bacaan Al-Qur’an. Salah harakat terdengar seperti gangguan. Keliru i’rab seperti alarm. Sedikit saja makhraj meleset, hati saya langsung terusik. Seolah saya berada dalam mode siaga, ya siaga terhadap orang lain.
Waktu itu saya mengira itu tanda cinta pada Al-Qur'an. Saya pikir itu bukti keseriusan menjaga kemurnian bacaan.
Belakangan saya sadar, bisa jadi itu bukan hanya ketelitian melainkan bibit spiritual pride, kesombongan rohani yang datang dengan wajah alim.
Suatu maghrib, saya menjadi makmum di sebuah musala kecil. Imamnya seorang bapak paruh baya. Bacaan beliau tidak sempurna. Ada mad yang kurang panjang, ada makhraj yang samar.
Sepanjang shalat, pikiran saya tidak benar-benar berdiri di hadapan Allah.
Saya berdiri di hadapan “kesalahan” imam.
Saya menimbang.
Saya menilai.
Saya mengaudit.
Padahal Allah telah mengingatkan:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 1–2)
Malam itu saya tidak khusyuk.
Tapi anehnya, saya merasa lebih benar.
Di situlah saya mulai memahami: setan tidak selalu mengajak pada dosa terang-terangan. Kadang ia mendorong kita berdiri di tempat yang terlihat benar lalu membisikkan rasa unggul.
Selesai shalat, saya bahkan mengulangnya di rumah. Dengan sedikit rasa bangga, lalu saya bertemu seorang guru dan menceritakan kejadian itu kepadanya sambil menirukan bacaan imam tadi dengan nada meremehkan.
Sang guru hanya berkata pelan, “Lain kali, tidak usah diulangi shalatmu.”
Saya terkejut. “Tapi bacaannya tidak benar…”
Jawabannya sederhana, namun menghancurkan ego:
اِعْتَبِرْ أَنَّكَ سَمِعْتَ خَطَأً
“Anggap saja kamu yang salah dengar tadi.”
Kalimat itu bukan sedang membenarkan kesalahan bacaan. Ia sedang meluruskan hati yang merasa lebih suci.
Dalam Al-Hikam, Ibnu 'Athaillah menulis:
رُبَّ مَعْصِيَةٍ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَافْتِقَارًا، وَرُبَّ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا
“Bisa jadi maksiat melahirkan kerendahan hati dan kebutuhan kepada Allah, sementara ketaatan justru melahirkan rasa bangga dan kesombongan.”
Kalimat itu lama terngiang.
Saya mulai takut: jangan-jangan kerapian ibadah saya justru menjauhkan saya dari Allah, karena ia menumbuhkan rasa lebih suci.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)
Sabda itu datang dari Nabi Muhammad dan ia tidak membatasi kesombongan hanya pada harta atau kekuasaan. Ia juga bisa hadir dalam rasa paling paham agama.
Godaan yang berkedok kebenaran itu nyata adanya, Allah mengingatkan:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini seperti rem darurat bagi jiwa yang gemar merasa unggul.
Karena setan tidak selalu berkata, “Berbuatlah dosa.”
Kadang ia berkata, “Kamu lebih baik dari mereka.”
Itulah godaan yang paling sulit dikenali karena ia datang dengan wajah kebenaran.
Perlunya kita mengoreksi dengan hati yang terkoreksi, karena rendah hati bukan berarti membiarkan kesalahan. Mengoreksi tetap bagian dari iman. Namun pertanyaannya bukan hanya apa yang kita koreksi, melainkan dengan hati seperti apa kita melakukannya.
Apakah kita ingin kebenaran tegak?
Atau ingin diri kita terlihat benar?
Perbedaannya tipis, tapi dampaknya besar.
Hadis dari Nabi Muhammad mengingatkan:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisan. Jika tidak mampu, ubahlah dengan hati—dan itulah tingkat iman yang paling lemah.” (HR. Muslim)
Perbedaan antara amar ma’ruf dan ego terletak pada niat hati, maka kita perlu menghindari sikap mengaudit orang tapi lebih kepada sikap menghisab Diri
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Mengoreksi diri tidak memberi tepuk tangan. Tidak memberi rasa unggul. Tapi justru di sanalah keselamatan hati bermula.
Spiritual Pride itu halus. Ia tumbuh dari amal, disiram pujian, lalu berbuah penghakiman. Ia membuat kita sibuk merapikan orang lain, tapi lupa merapikan hati sendiri.
Saya pun belajar satu doa sederhana:
اللَّهُمَّ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.”
Karena ketika dibiarkan bersama ego sendiri, kita mudah berubah dari hamba menjadi hakim.
Dan mungkin, dalam banyak keadaan, yang perlu kita luruskan bukanlah bacaan orang lain melainkan niat, hati, dan cara pandang kita sendiri.
Penulis: Angga Adi Prasetya, M.Pd
0 Komentar