Mutukawi.id - Idul fitri adalah momen bahagia untuk berkumpul dengan keluarga, berbagi senyum, dan mempererat silaturahmi. Namun, di tengah arus zaman yang bergerak cepat, manusia modern sering terjebak dalam ilusi “lebih” : lebih kaya, lebih berkuasa, lebih diakui, lebih menarik, dan ingin menjadi pusat perhatian.
Seolah hidup adalah perlombaan panjang tanpa garis akhir. Padahal, ajaran spiritual Islam menekankan bukanlah memamerkan memiliki segalanya, tetapi belajar merasa cukup.

Ramadan yang baru saja berlalu, diikuti Idulfitri dan bulan Syawal, sejatinya adalah madrasah ruhani. Bulan suci itu melatih kita menahan diri, bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari keinginan berlebihan yang sering tak disadari. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

Wa laa tamuddan­na ‘ainayka ilaa maa matta’naa bihi azwaajan minhum zahratal hayaatid dunyaa linaftinahum fiih"


(Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya) — (QS. Taha: 131)

Ayat ini menegaskan bahwa kemewahan dunia hanyalah ujian, bukan tujuan akhir hidup. Sayangnya, sering kali manusia menjadikannya tolok ukur kebahagiaan.

Rasulullah SAW bersabda:
"Laisa al-ghinaa ‘an katsrati al-‘aradh, wa lakinna al-ghinaa ghinaa an-nafs"


(Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa) — (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, orang yang benar-benar kaya adalah yang hatinya merasa cukup. Ia tidak gelisah melihat milik orang lain, dan tidak merasa kurang dengan apa yang ada pada dirinya.

Para ulama, seperti Imam Al-Ghazali, mengingatkan:
" Al-qanaa’atu maalun laa yanfad"


(Qana’ah adalah harta yang tidak akan pernah habis)

Seseorang yang memiliki sifat qana’ah akan selalu merasa cukup. Ia tidak mudah iri, tidak terobsesi mengejar kemewahan, dan tidak menjadikan hidup sebagai ajang pamer. Sebaliknya, orang yang selalu merasa kurang akan terus gelisah, meskipun hartanya melimpah.

Momentum mudik dan Syawal seharusnya menjadi waktu untuk merenung. Pulang ke kampung halaman bertemu keluarga bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan kembali ke akar kehidupan kepada kesederhanaan dan nilai-nilai yang membentuk kita sejak dulu.

Di tengah keluarga, dalam suasana sederhana, kita diingatkan bahwa hidup tidak harus diukur dari kekayaan atau jabatan. Idul fitri bukan panggung untuk memamerkan apa yang kita miliki, tetapi momen untuk merayakan kebersamaan, keikhlasan, dan kesederhanaan.

Justru dalam kesederhanaan itu, makna hidup sering ditemukan. Ada ketenangan yang tidak bisa dibeli, ada kebahagiaan yang tidak bergantung pada penilaian orang lain.

Kini, setelah Ramadan berlalu dan Syawal tengah berjalan, pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak yang telah kita kumpulkan, tetapi seberapa dalam kita memahami arti “cukup”.

Di dunia yang terus mendorong kita menjadi luar biasa, mungkin menjadi sederhana dan merasa cukup adalah bentuk kebijaksanaan yang paling tinggi. Idul fitri mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang puas, bukan dari apa yang terlihat oleh mata.

Penulis: Angga Adi Prasetya, M.Pd