Mungkin Ia Punya Udzur (Prasangka baik kepada sesama)
Marhaban ya Ramadhan!
Selamat datang wahai bulan penuh rahmat, ampunan, dan cahaya iman. Bulan yang Allah hadirkan setiap tahun sebagai kesempatan untuk mentarbiyah diri: memperbaiki hati, melatih kesabaran, menundukkan ego, sekaligus mendidik kita menjadi pribadi yang lebih lembut dan penuh empati.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi tentang menumbuhkan keimanan dan memperindah akhlak dalam setiap sisi kehidupan. Bulan istimewa ini juga mengajarkan kita untuk berprasangka baik.
Kita sering menilai orang lain dari yang terlihat di permukaan.
Ada yang tetap semangat hadir buka bersama, lalu tarawih sendiri di rumah. Lelahnya berlipat, semoga pahalanya juga berlipat.
Ada yang memilih tidak hadir, tapi tetap menuntaskan tilawah dan tarawih di rumah. Ia mungkin sedang menjaga kualitas ibadahnya.
Ada pula yang tidak tampak dalam keduanya, karena fokus menafkahi keluarga, membantu orang tua, atau menyelesaikan amanah yang tak bisa ditinggalkan.
Semua punya medan juangnya masing-masing. Ramadhan mengingatkan kita: ibadah bukan sekadar yang tampak oleh mata, tapi yang hidup dalam niat. Kita tak pernah benar-benar tahu perjuangan seseorang. Bisa jadi yang jarang terlihat di masjid justru paling sering menangis dalam doanya. Bisa jadi yang tak hadir di undangan sedang memikul tanggung jawab yang lebih berat.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
يا ايها الذين امنوا اجتنبوا كثيرا من الظن ان بعض الظن اثم
(QS. Al-Hujurat: 12)
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.”
Ayat ini terasa begitu relevan di bulan suci. Sebab yang perlu kita sucikan bukan hanya makanan yang masuk ke perut, tetapi juga pikiran yang bersarang di kepala dan prasangka yang tumbuh di hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
(HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa yang bernilai bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan hati dari kesombongan, rasa lebih baik dari orang lain, dan prasangka buruk.
Karena itu, begitulah seharusnya kita menilai saudara seiman: selalu berprasangka baik, bahkan ketika kita tidak tahu alasannya. Katakan dalam hati, “ Mungkin ia punya udzur yang aku tidak tahu .” Bukan meremehkan, apalagi membanggakan diri sendiri.
Ramadhan bukan panggung untuk pamer rajin, bukan ajang membandingkan amal, tapi kesempatan memperbaiki diri. Dalam bulan ini, mari kita belajar sederhana namun berat:
menghormati pilihan ibadah orang lain dan menjaga hati tetap bersih.
Bisa jadi yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah bukan yang paling terlihat amalnya, tetapi yang paling tulus niatnya dan paling baik prasangkanya.
Bahkan di antara kita nanti akan ada yang teguh di masjid, membaca Al-Qur’an, beritikaf, merenungi diri, dan menyiapkan diri menghadapi kematian. Ada ibu yang terbangun malam-malam menimang anaknya sambil berdoa, mengelus rambutnya yang belum tidur sampai pagi. Ada yang berpeluh di kendaraan atau menyelesaikan pekerjaan demi keluarga, sambil tetap membaca Al-Qur’an dan istighfar. Semua perjuangan punya nilai di sisi Allah.
Marilah kita niatkan Ramadhan ini berakhir dengan baik, sembari memohon ampun:
اَللّٰهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
“Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.”
Dan sebagai doa penutup, kita mohon keselamatan, kesehatan, iman yang kuat, serta umur yang bermanfaat:
اَللّٰهُمَّ سَلِّمْنَا فِي رَمَضَانَ وَأَعِدْنَا عَلَيْهِ عُمُورًا مُبَارَكَةً وَأَنْعِمْ عَلَيْنَا بِالإِيْمَانِ وَالتَّقْوَى
Artinya: “Ya Allah, selamatkan kami di bulan Ramadhan ini, kembalikanlah kepada kami dengan umur yang diberkahi, dan anugerahkanlah kepada kami iman serta takwa.”
Semoga diberikan husnul khatimah, urusan dunia kita pantaskan, target akhirat kita menangkan, dan semoga Allah memberikan umur panjang dengan iman yang makin mekar
Pelajaran terbesar dari Ramadhan adalah bertambahnya keimanan dan semakin indahnya akhlak kita. Jika hati lebih lembut, lisan lebih terjaga, prasangka lebih baik, dan sikap lebih penuh kasih, itulah tanda keberhasilan tarbiyah Ramadhan.
Aamiin.
Penulis: Angga Adi Prasetya, M.Pd
0 Komentar